GOMBONG, suaramerdeka.com – Sebanyak 400 orang peneliti yang terdiri atas dosen dan mahasiswa dari 15 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) se-Jawa Tengah dan DIY mengikuti kegiatan bertajuk The 10 th University Research Colloquium (URECOL) di kampus Stikes Muhammadiyah Gombong, baru-baru ini.

Kegiatan yang mengangkat tema “Peran Muhammadiyah dalam Riset Sains dan Teknologi di Era Revolusi Industri 4.0 menuju  Ketercapaian SDG’s” itu menghadirkan dua pembicara kunci. Yakni  Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof Dr H Khudzaifah Dimyati SH M Hum yang mengangkat tema Program dan Kebijakan Muhammadiyah Terhadap Riset dan Publikasi Hasil Penelitian Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah.

Kemudian, Ketua MPKU Pusat PP Muhammadiyah Drs Mohammad Agus Samsudin MM yang mengangkat tema Sinergi MPKU sebagai Bagian dari Pengabdian Masyarakat untuk Kemaslahatan Ummat.

Berbeda dengan penyelenggaran URECOL sebelumnya, URECOL ke-10 ini memberi kesempatan kepada lima orang peneliti dengan naskah terbaik untuk menjadi Invited Speaker dalam forum ini. Invited Speaker diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian di hadapan peserta seminar dan seluruh naskah yang terpilih akan dimuat dalam jurnal terakreditasi SINTA 1-4.

Lima peneliti yang menjadi invited speaker adalah Nasruddin dari Universitas Muhammadiyah Semarang dengan judul Efektivitas Perlakuan Kombinatif Plasma Medis dan Ekstrak Daun Sirih untuk Mempercepat Penyembuhan Luka Fase Proliferasi pada Model Mencit Diabetik.

Kemudian Edy Purwo Saputro (Universitas Muhammadiyah Surakarta) dengan judul Ketika Generasi Milenial Memilih. Putra Agina Widyaswara Suwaryo (Stikes Muhammadiyah Gombong) dengan judul penerapan Early Warning score system di ruang perawatan.

Khabib Sholeh (Universitas Muhammadiyah Purworejo) memaparkan risetnya  yang berjudul “Keefektifan Model Parmi dalam Pendidikan Pengembangan Diri sebagai Penguatan Nilai Karakter dan Literasi Siswa”.  Kemudian Ana Zumrotun Nisak (Universitas Muhammadiyah Kudus) dengan Judul “Penggunaan Kombinasi Metode Basoku terhadap Produksi Air Susu Ibu (ASI)”.

Ketua Panitia The 10 th URECOL Arnika Dwi Asti MKep menjelaskan, URECOL merupakan forum yang berfungsi untuk memfasilitasi diseminasi hasil penelitian dan pengabdian masyarakat. URECOL telah diselenggarakan sejak tahun 2015 dengan durasi setiap enam bulan sekali.

“Untuk yang ke-10 kalinya URECOL diselenggarakan dalam upaya memberikan kesempatan pada para peneliti untuk melakukan publikasi di forum ilmiah,”  ujar Arnika Dwi Asti di sela-sela acara.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah se-Jawa Tengah dan DIY bekerjasama dengan Stikes Muhammadiyah Gombong itu merupakan forum seminar nasional yang memberikan kesempatan untuk diseminasi, diskusi, dan mendapatkan follow up atas research outcomes yang lebih bermanfaat.

Penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang baik akan memberikan lebih banyak manfaat jika dipublikasikan juga melalui berbagai jurnal dan wadah informasi yang tepat. Sehingga banyak yang diimplementasikan dan menjadi bahan rujukan untuk penelitian serta pengabdian kepada masyarakat.

Tantangan Riset Nasional

Ketua Konsorsium  Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Pusat  Agus Ulinuha PhD  hadir memberikan sambutan dan apresiasi yang luar biasa kepada peserta. Pihaknya  menyampaikan ucapan terima kasih kepada  Stikes Muhammadiyah Gombong yang sudah menyiapkan dan menyelenggarakan URECOL.

Acara dimeriakan oleh paduan suara Gita Lecsta Stikes Muhammadiyah Gombong, dan tarian tradisional cepetan yang berasal dari Karanggayam, Kebumen dipentaskan secara apik oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) seni  Stikes Muhammadiyah Gombong.

Prof Khudzaifah Dimyati dalam paparannya menyampaikan bahwa  tantangan riset nasional antara lain fokus riset, relevansi riset, produktivitas riset dan kolaborasi riset. Selain itu kerjasama riset  baik domestik maupun internasional, meliputi berbagai dana penelitian, berbagi keahlian SDM, berbagai fasilitas  riset, dan joint publikasi juga masih menjadi tantangan.

“Anggaran risbang di Indonesia masih bertumpu pada APBN. Padahal APBN sangat terbatas. Dunia usaha belum beperan secata signfikan dalam peningkatan anggaran risbang,” ujarnya.

Dia menambahkan, pemanfaatan anggaran risbang yang kecil belum optimal untuk meningkatkan relevansi dan produktivitas risbang karena sistem penganggaran dan administrasi keuangan yang sangat rigid cenderung menjadi faktor “penghambat” dalam pelaksanaan risbang, selain faktor kurang tajamnya fokus risbang.