MEDIA SOSIAL DALAM MITIGASI BENCANA

Setiap hari ada rata-rata 6 bencana alam yang terjadi di Indonesia, bahkan tahun lalu BNPB mencatat ada 2300 bencana alam di Indonesia, yang menyebabkan 4.000 korban meninggal dunia dan jutaan penduduk mengungsi. Sedangkan data statistik BNPB tahun 2019, jumlah kejadian bencana dalam satu tahun terakhir mencapai 2.466 kejadian dengan jumlah korban 10.2 juta orang. Jawa tengah menduduki peringkat tertinggi yaitu 304 kejadian. Selain itu, kabupaten kebumen menduduki peringkat ke 5 untuk jumlah korban bencana yaitu 135.069 orang. Bisa dilihat begitu meningkatnya jumlah kejadian dan korban yang terjadi akibat bencana. hal ini juga didukung oleh pernyataan Pelaksana Harian Direktur Kesiapsiagaan BNPB, Bambang Surya Putra, bahwa kejadian bencana terus meningkat dari tahun ke tahun dalam periode yang sama.

Manajemen bencana yang baik tidak hanya berfokus pada penanggulangan ketika terjadi bencana atau pada fase tanggap darurat. Dampak bencana bisa diminimalisir jika semua pihak ikut serta dalam fase pra-bencana seperti mitigasi dan preparedness. Mitigasi bencana adalah tahap awal seperti persiapan, langkah-langkah yang diperlukan baik itu sarana dan prasarana sebelum terjadi bencana. hal ini penting dilakukan karena dapat mengurangi risiko bencana dan korban ketika terjadi bencana. peran edukasi kepada masyarakat perihal mitigasi bencana sangat penting dan diperlukan. Selain itu, pendekatan non fisik dan teknis seperti legislasi, regulasi tata ruang dan lahan, pendidikan dan penguatan kapasitas masyarakat juga menjadi bagian penting dari mitigasi bencana. hal ini juga juga didukung oleh PerMenDagri No 101/2018 tentang Standar Teknis Pelayanan Dasar pada Standar Pelayanan Minimal sub-urusan bencana untuk kabupaten/kota, dimana salah satunya yaitu berisi pelayanan pencegahan dan kesiapsiagaan sebelum terjadi bencana.

Berita bencana paling banyak didapatkan dari media sosial, baik dari kalangan yang paling muda sampai paling tua, baik dari pelosok maupun sampai ke kota. itulah mengapa pakar kebencanaan Hening Parlan mengatakan bahwa informasi di media sosial yang dapat dengan cepat tersebar di masyarakat. Ambil contoh saja tentang bencana erupsi merapi pada tahun 2010 dan erupsi gunung kelud tahun 2014, atau banjir dan longsor yang terjadi di Aceh pada 18 November lalu, semua informasi tersebut bisa dengan mudah diakses oleh masyarakat melalui media sosial seperti twitter, facebook, Instagram, whatsapp bahkan sms pun memiliki peran dalam penyebarluasan informasi tentang bencana. BMKG pun tidak ketinggalan ikut merilis aplikasi yang bisa diunduh melalui smartphone untuk mengetahui prakiran bencana, cuaca, titik panas dan gempa di seluruh Indonesia yang disebarkan real-time.

Berbagai riset dilakukan dalam rangka mengurangi korban akibat bencana. salah satu riset yang dilakukan adalah peran teknologi menggunakan aplikasi digital yang berfokus pada penanggulangan bencana. penelitian ini bertujuan untuk mengurangi korban bencana dengan menyampaikan informasi peringatan darurat dan informasi reduksi risiko bencana. rata-rata postingan yang mereka bagikan yaitu kepada 28 pengguna lalinnya, sehingga berita dan informasi terkait bencana dapat dengan mudah tersebar secara cepat dan efisien. Dengan adanya media sosial yang dapat digunakan dengan baik oleh masyarakat, harapannya dampak akibat bencana bisa berkurang.

Pada kesempatan lain, proses penyaluran bantuan juga didominasi oleh peran media sosial yang begitu cepatnya bisa langsung diakses dan disalurkan dalam bentuk rupiah maupun bahan makanan, pakaian, serta kebutuhan korban bencana yang sudah mengungsi. Pada mitigasi bencana, media sosial bisa dimanfaatkan untuk saling membuka ruang diskusi dan kegiatan sosialisasi oleh masyarakat terkait bencana. selain itu, aplikasi early warning system atau peringatan dini sebelum bencana juga bisa digunakan oleh masyarakat terutama yang tinggal didaerah rawan bencana.

Namun, diluar itu pengguna media sosial juga harus bijak dalam memanfaatkan teknologi yang ada, mengingat maraknya berita hoaks, yang justru akan merugikan banyak pihak dan informasi yang tidak jelas tersebar ke masyarakat luas. Tak dapat dipungkiri, berita bohong tentang bencana alam pun menjadi momok. Oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab ingin memanfaatkan situasi darurat demi modus ekonomi atau propaganda politis.

Mengutip pernyataan Nukman Luthfie, pegiat sosial sekaligus jurnalis yang peduli terhadap media sosial dalam artikelnya yang berjudul “bermedia sosial dengan bijak ala Nukman Luthfie”, juga menyatakan bahwa lebih dari 50% pengguna media sosial sering menerima pesan hoaks. Facebook sebagai media sosial utama dalam memperoleh informasi tersebut. Sebanyak 81% pengguna sebagai medium utama sebagai sumber hoaks. Oleh karena itu, bijaklah dalam menggunakan dan memanfaatkan teknologi yang ada.